KEUNIKAN PULAU RANGITOTO SELANDIA
BARU
&
DAUN SIRIH ORANG ASLI SELANDIA BARU (MAORI)
& MANFAATNYA
*KAWAKAWA*
OLEH :
MICHAEL BENNY WOMPERE
Pulau Rangitoto adalah pulau dengan gunung
berapi termuda di Selandia Baru, pulau ini sangat kaya dengan sejarah, pulau
Rangitoto bertetangga dengan Pulau Motutapu dan kedua Pulau ini sekarang menjadi
tempat berlindung bagi flora dan fauna asli Selandia Baru. Menurut sejarah yang
saya baca dipulau ini, pulau Rangitoto meletus sekitar 600 tahun yang lalu dan
butuh sekitar 200 tahun bagi pulau ini untuk membentuk bentukan kerucut yang
kemudian khas dan terkenal hingga saat
ini di Kota Auckland sebagai salah satu pulau kerucut. Menurut sahabat saya,
orang asli Selandia Baru dalam hal ini orang Māori memiliki hubungan yang kuat dengan pulau
ini dimana pada masa perang dengan Inggris mereka menggunakan puncak pulau ini sebagai
tempat untuk mengintai musuh dari teluk Hauraki Kota Auckland, serta tempat untuk cadangan makanan
seperti burung beo / haui-kaka dan tanaman untuk pengobatan ketika selesai
berperang. Di samping itu ada gua pemakaman kuno yang terletak di pulau Rangitoto
yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan tulang orang Maori yang dibawa
dari Pulau Motutapu.
Picture: Tampak kerucut Pulau Rangitoto dari Pulau Motutapu
Pada hari sabtu tanggal 21 – 09- 2019,
saya mempunyai kesempatan untuk menghabiskan weekend di pulau Rangitoto, saya
berangkat dari kota Auckland dengan dengan salah satu sahabat saya (Kirsty) orang
Selandia Baru ke Pulau Rangitoto. Kami menghabiskan 26 menit diatas Kapal Feri ke
Pulau Rangitoto. Setelah tiba dipulau Rangitoto kami memulai ekspedisi dengan
mendaki ke Puncak Rangitoto (Rangitoto Summit), setelah satu jam mendaki kami
tiba dipuncak dari pulau Rangitoto.
Picture : Puncak Rangitoto (Rangitoto Summit)
Saya sangat menikmati puncak Rangitoto, kemudian saya
dan sahabat saya menuju gua pemakaman kuno orang Maori di pulau Rangitoto,
dimana jaraknya hanya 45 menit dari atas puncak Rangitoto. Sahabat saya banyak
menjelaskan betapa gua ini sangat bermanfaat bagi orang asli Maori dimana untuk
menyimpan tulang – tulang keluarga mereka yang meninggal dan gua ini juga untuk
bersembunyi dan simpan peralatan perang dan cadangan makanan untuk orang Maori.
Picture : Gua Rangitoto (Rangitoto Cave)
Setelah menghabiskan waktu di gua Rangitoto,
saya dan sahabat saya menuju pulau Motutapu dengan berjalan kaki kira – kira satu
jam lebih dari pulau Rangitoto dan harus melewati jembatan kecil dimana batas
antara pulau Rangitoto dan pulau Motutapu.
Picture : Tampak batas pulau Rangitoto dan pulau Motutapu)
Sesampainya di pulau Motutapu,
saya dan sahabat saya langsung mendaki ke puncak Motutapu dan menghabiskan 2 jam lebih untuk menikmati keindahan dari pulau ini dan beristirahat.
Picture : Puncak Motutapu (Motutapu Summit)
Sahabat saya banyak menjelaskan
tentang betapa seriusnya pemerintah Selandia Baru dalam menjaga keberlanjutan
dari pulau Rangitoto dan pulau Motutapu. Di kedua pulau ini para pengunjung
dilarang keras untuk menyalakan api, membuang sampah sembarang, membawa anjing,
dua pulau ini tidak ada toko jadi pengunjung wajib membawa air sendiri. Saya
begitu heran ketika melihat pulau Motutapu tidak begitu banyak pohon - pohon dengan
kata lain pulau ini botak (tidak ada pohon).
Picture : Tampak puncak Motutapu
tidak ada pohon.
Sahabat sayapun menjelaskan bahwa karena
posisi pulau Motutapu yang botak dan tidak ada pohon, maka pemerintah Selandia
Baru mempunyai program tahunan untuk menanam pohon-pohon asli ( native Trees) Selandai
Baru, seperti pohon Pohutukawa (Metrosideros excelsa), Tōtara (Podocarpus
totara), Kowhai (Sophora), Kauri (Agathis australis), Coprosma, Kawaka, dan lain’’.
Picture : Penanaman pohon - pohon asli di Motutapu
Karena
mendengar penjelasan dari sahabat saya bahwa pemerintah Selandia Baru benar –
benar fokus untuk menanam ulang pohon -pohon asli (native trees), maka saya bergerak
untuk pergi dan melihat langsung pohon - pohon asli ini. Setelah 15 menit berjalan – berkeliling dan melihat pohon- pohon
asli milik orang Maori ini kemudian mata saya tertuju ke sebuah pohon yang
menurut saya tidak asing. Awalnya saya
berpikir tumbuhan ini adalah daun Sirih yang biasa kami
pakai di Papua untuk makan Pinang dan Kapur, tetapi setelah melihat dengan
seksama ternyata bukan. Sahabat sayapun mulai menjelaskan bahwa ini adalah
pohon Kawakawa.
Nama
"Kawakawa" berarti rasa pahit, pohon Kawakawa bercabang dan tumbuh
setinggi enam meter daunnya berbentuk hati berdaging aromatik memiliki urat
yang menonjol dan berwarna hijau gelap hingga hampir hijau kuning. Daunnya sering
ditutupi dengan lubang, terutama disebabkan oleh ulat. Kawakawa ditemukan di
hutan pesisir dan dataran rendah di seluruh Pulau Utara dan bagian Selatan Selandia Baru. Pohon Kawakawa lebih menyukai tanah yang lembab. Daun
Kawakawa dapat digunakan untuk membumbui hidangan manis dan gurih dan juga bisa
dijadikan teh untuk orang Maori.
Picture
: Pohon Kawakawa
Orang
asli Selandia Baru, orang Maori mengenakan karangan bunga Kawakawa di kepala
sebagai tanda berkabung. Mereka menggunakan daun Kawakawa untuk menyambut para
tamu sebagai makanan, Kawaka juga berfungsi sebagai obat bagi orang Maori. Buah,
kulit, dan daun Kawakawa menjadi ramuan
penyembuhan terpenting yang digunakan oleh Maori pada zaman dulu dan masih banyak orang Maori yang
menggunakan pohon Kawakawa sebagai obat hingga saat ini. Daunnya dikunya untuk hilangkan sakit gigi, juga dipakai untuk mengobati penyakit perut, masalah kandung kemih, dan buahnya dimakan. Pohon Kawakawa juga digunakan secara eksternal untuk
menyembuhkan luka, bisul, memar, rematik, sengatan lebah dan lain - lain. Pada
tahun 2008 MAF Biosecurity New Zealand telah melakukan penelitian terhadap pohon
Kawakawa dan manfaatnya. Ikuti – Follow
Up (https://herbs.org.nz/kawakawa-fact-sheet/). Di Papua kami mempunyai daun Sirih yang pasti banyak manfaatnya, salah satunya adalah untuk menghilangkan sakit gigi. Saya akan mencoba untuk meneliti lebih lanjut persamaan antara Kawakawa Selandia Baru dan Sirih Papua. Thanks .!!!
Picture : Pohon Kawakawa











Tidak ada komentar:
Posting Komentar