Sabtu, 21 September 2019

DAUN SIRIH ORANG ASLI SELANDIA BARU (MAORI) & MANFAATNYA



KEUNIKAN PULAU RANGITOTO SELANDIA BARU
&
DAUN SIRIH ORANG ASLI SELANDIA BARU (MAORI)  & MANFAATNYA
*KAWAKAWA*
OLEH :
MICHAEL BENNY WOMPERE


Pulau Rangitoto adalah pulau dengan gunung berapi termuda di Selandia Baru, pulau ini sangat kaya dengan sejarah, pulau Rangitoto bertetangga dengan Pulau Motutapu dan kedua Pulau ini sekarang menjadi tempat berlindung bagi flora dan fauna asli Selandia Baru. Menurut sejarah yang saya baca dipulau ini, pulau Rangitoto meletus sekitar 600 tahun yang lalu dan butuh sekitar 200 tahun bagi pulau ini untuk membentuk bentukan kerucut yang kemudian  khas dan terkenal hingga saat ini di Kota Auckland sebagai salah satu pulau kerucut. Menurut sahabat saya, orang asli Selandia Baru dalam hal ini orang Māori memiliki hubungan yang kuat dengan pulau ini dimana pada masa perang dengan Inggris mereka menggunakan puncak pulau ini sebagai tempat untuk mengintai musuh dari teluk Hauraki Kota Auckland, serta tempat untuk cadangan makanan seperti burung beo / haui-kaka dan tanaman untuk pengobatan ketika selesai berperang. Di samping itu ada gua pemakaman kuno yang terletak di pulau Rangitoto yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan tulang orang Maori yang dibawa dari Pulau Motutapu.
 Picture: Tampak kerucut Pulau Rangitoto dari Pulau Motutapu

Pada hari sabtu tanggal 21 – 09- 2019, saya mempunyai kesempatan untuk menghabiskan weekend di pulau Rangitoto, saya berangkat dari kota Auckland dengan dengan salah satu sahabat saya (Kirsty) orang Selandia Baru ke Pulau Rangitoto. Kami menghabiskan 26 menit diatas Kapal Feri ke Pulau Rangitoto. Setelah tiba dipulau Rangitoto kami memulai ekspedisi dengan mendaki ke Puncak Rangitoto (Rangitoto Summit), setelah satu jam mendaki kami tiba dipuncak dari pulau Rangitoto.
Picture : Puncak Rangitoto (Rangitoto Summit)

Saya sangat menikmati puncak Rangitoto, kemudian saya dan sahabat saya menuju gua pemakaman kuno orang Maori di pulau Rangitoto, dimana jaraknya hanya 45 menit dari atas puncak Rangitoto. Sahabat saya banyak menjelaskan betapa gua ini sangat bermanfaat bagi orang asli Maori dimana untuk menyimpan tulang – tulang keluarga mereka yang meninggal dan gua ini juga untuk bersembunyi dan simpan peralatan perang dan cadangan makanan untuk orang Maori.
Picture : Gua Rangitoto (Rangitoto Cave)

Setelah menghabiskan waktu di gua Rangitoto, saya dan sahabat saya menuju pulau Motutapu dengan berjalan kaki kira – kira satu jam lebih dari pulau Rangitoto dan harus melewati jembatan kecil dimana batas antara pulau Rangitoto dan pulau Motutapu.
Picture : Tampak batas pulau Rangitoto dan pulau Motutapu)

Sesampainya di pulau Motutapu, saya dan sahabat saya langsung mendaki ke puncak Motutapu dan menghabiskan 2 jam lebih untuk menikmati keindahan dari pulau ini dan beristirahat.
 Picture : Puncak Motutapu (Motutapu Summit)

Sahabat saya banyak menjelaskan tentang betapa seriusnya pemerintah Selandia Baru dalam menjaga keberlanjutan dari pulau Rangitoto dan pulau Motutapu. Di kedua pulau ini para pengunjung dilarang keras untuk menyalakan api, membuang sampah sembarang, membawa anjing, dua pulau ini tidak ada toko jadi pengunjung wajib membawa air sendiri. Saya begitu heran ketika melihat pulau Motutapu tidak begitu banyak pohon - pohon dengan kata lain pulau ini botak (tidak ada pohon).
Picture : Tampak puncak Motutapu tidak ada pohon.

Sahabat sayapun menjelaskan bahwa karena posisi pulau Motutapu yang botak dan tidak ada pohon, maka pemerintah Selandia Baru mempunyai program tahunan untuk menanam pohon-pohon asli ( native Trees) Selandai Baru, seperti pohon Pohutukawa (Metrosideros excelsa), Tōtara (Podocarpus totara), Kowhai (Sophora), Kauri (Agathis australis), Coprosma, Kawaka, dan lain’’.


Picture : Penanaman pohon - pohon asli di Motutapu 
          Karena mendengar penjelasan dari sahabat saya bahwa pemerintah Selandia Baru benar – benar fokus untuk menanam ulang pohon -pohon asli (native trees), maka saya bergerak untuk pergi dan melihat langsung pohon - pohon asli ini. Setelah 15 menit berjalan – berkeliling dan melihat pohon- pohon asli milik orang Maori ini kemudian mata saya tertuju ke sebuah pohon yang menurut saya tidak asing.  Awalnya saya berpikir tumbuhan ini adalah daun Sirih yang biasa kami pakai di Papua untuk makan Pinang dan Kapur, tetapi setelah melihat dengan seksama ternyata bukan. Sahabat sayapun mulai menjelaskan bahwa ini adalah pohon Kawakawa.
                                              
Picture : Pohon Kawakawa

Pohon Kawakawa
Nama "Kawakawa" berarti rasa pahit, pohon Kawakawa bercabang dan tumbuh setinggi enam meter daunnya berbentuk hati berdaging aromatik memiliki urat yang menonjol dan berwarna hijau gelap hingga hampir hijau kuning. Daunnya sering ditutupi dengan lubang, terutama disebabkan oleh ulat. Kawakawa ditemukan di hutan pesisir dan dataran rendah di seluruh Pulau Utara dan bagian Selatan Selandia Baru. Pohon Kawakawa lebih menyukai tanah yang lembab. Daun Kawakawa dapat digunakan untuk membumbui hidangan manis dan gurih dan juga bisa dijadikan teh untuk orang Maori.
 Picture : Pohon Kawakawa

Orang asli Selandia Baru, orang Maori mengenakan karangan bunga Kawakawa di kepala sebagai tanda berkabung. Mereka menggunakan daun Kawakawa untuk menyambut para tamu sebagai makanan, Kawaka juga berfungsi sebagai obat bagi orang Maori. Buah, kulit, dan daun Kawakawa menjadi ramuan penyembuhan terpenting yang digunakan oleh Maori pada zaman dulu dan masih banyak orang Maori yang menggunakan pohon Kawakawa sebagai obat hingga saat ini. Daunnya dikunya untuk hilangkan sakit gigi, juga dipakai untuk mengobati penyakit perut, masalah kandung kemih, dan buahnya dimakan. Pohon Kawakawa juga digunakan secara eksternal untuk menyembuhkan luka, bisul, memar, rematik, sengatan lebah dan lain - lain. Pada tahun 2008 MAF Biosecurity New Zealand telah melakukan penelitian terhadap pohon Kawakawa dan manfaatnya. Ikuti – Follow Up (https://herbs.org.nz/kawakawa-fact-sheet/). Di Papua kami mempunyai daun Sirih yang pasti banyak manfaatnya, salah satunya adalah untuk menghilangkan sakit gigi. Saya akan mencoba untuk meneliti lebih lanjut persamaan antara Kawakawa Selandia Baru dan Sirih Papua. Thanks .!!!
Picture : Pohon Kawakawa





Selasa, 17 September 2019

Analisis Permintaan Tokoh – Tokoh Papua ke President - Rasisme & Diskriminasi


Analisis permintaan tokoh – tokoh Papua ke President

Ada sebuah kasus yang sangat menarik di Ethopia dimana angka kematian anak kecil yang baru lahir dan berumur 1 sampai 5 tahun  meninggal paling tinggi, untuk mencegah angka kematian anak – anak,  pemerintah Ethopia merespon dengan memperkenalkan program perawatan ibu yang penuh hormat, di mana perempuan memilih posisi melahirkan mereka sendiri, dapat membawa teman melahirkan dan dapat melakukan upacara menyambut bayi dengan  minum’’ dan makan’’ sambil menunggu bayi yang akan lahir, tetapi kenyataannya anak” kecil tetap meniggal. Terus kesalahannya disini dimana.?
Pertama Pemerintah Ethopia tidak mengukur masalah sesuai dengan faktor sosial dan budaya – masyarakat lokal tidak pede melahirkan di rumah sakit , kedua ada pengumpulan data awal yang cacat tentang kematian anak sehingga tujuan dari pembangunan fasilitas yang lengkap untuk kesehatan di Ethopia gagal. (Childs and Fawssett, 2015) Contoh ini menunjukkan bahwa faktor sosial dan budaya itu sangat penting dalam menyelesaikan masalah.
Dalam menghadapi isu rasisme untuk orang- orang Papua, parah tokoh – tokoh Papua harus mengukur masalah isu rasisme terhadap orang orang Papua dan masalah - masalah di Papua berdasarkan situasi dan budaya di Papua, kemudian meminta undang – undang keberlanjutan yang lebih tajam dan jelas ke Pemerintah Indonesia untuk melindungi hak – hak asasi orang – orang Papua untuk sekarang dan masa yang akan datang, bukan dengan meminta infrastruktur dan lain – lain yang tidak ada kaitannya dengan isus rasisme dan diskriminasi :
Anda meminta:
1. Pemekaran provinsi 5 wilayah di provinsi Papua dan Papua Barat – setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
2. Pembentukan Badan Nasional Urusan Tanah Papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
3. Penempatan pejabat eselon 1 dan eselon 2 di Kementerian dan Lembaga - setiap tahun tetap ada isu rasisme terhadap orang Papua.
4. Pembangunan asrama nusantara untuk mahasiswa Papua di seluruh kota dan menjamin keamanan mahasiswa Papua - setiap tahun tetap ada isu rasisme terhadap orang Papua.
5. Usulan revisi UU otonomi khusus dalam prolegnas dalam 2020 - setiap tahun tetap ada isu rasisme terhadap orang Papua.
6. Menerbitkan Inpres untuk pengangkatan ASN Honorer di Tanah Papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
7. Percepatan palapa ring timur papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
8. Membentuk lembaga adat perempuan dan anak Papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
9. Membangun Istana Presiden RI di Ibu Kota Provinsi Papua, Jayapura - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
Untuk menyelesaikan masalah rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua itu tidak hanya dengan menangkap dua orang di Surabaya sebagai tersangka, untuk menyelesaikan masalah rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua itu satu Indonesia semua bertanggung – jawab, dari Sabang – Merauke semua wajib bertanggung jawab. Harusnya tokoh – tokoh Papua meminta kebijakan HAM Papua yang sustainable ke pemerintah, kebijkakan yang lebih tegas terhadap warga negara yang rasisme dan diskriminasi kepada orang Papua, kebijakan tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua,  kebijakan tentang tanah –  tanah adat di Papua, kebijakan tentang sumber daya manusia Papua, dan pemerintah Indonesia juga harus mendengar sendiri suara dari masyarakat Papua berdasarkan budaya dan situasi di Papua. Tokoh – tokoh Papua minta 9 point yang tidak ada kaitannya dengan masalah rasisme dan itu lebih kepada egoisme dan pribadi, masyarakat Papua demo dijalan untuk harga diri. #Mari berbagi .

Jumat, 13 September 2019

WOMEN EXPERIENCE DISCRIMINATION – 2016 AOTEAROA NEW ZEALAND


WOMEN EXPERIENCE DISCRIMINATION – 2016
AOTEAROA NEW ZEALAND
NON – GOVERNMENT  ORGANIZATIONS
NGO SUMMARY
BY
BENYAMIN WOMPERE

 “ All human beings are born free and equal in dignity and rights’’ (Human Rights 1993). This quote leads and raises the awareness of people around the world to accept background, race, and right’s of society including women’s right in this case. Regarding the topic of discrimination of women is deeply rooted in culture and tradition, this article identified ways to eradicate discrimination by providing women’s access to justice - specifically for Maori and migrant women. It is necessary to support and fortify the government to maintains gender equality in all national plans and government institutions. By increasing the resources for women’s affairs and then by enhancing and elaborating national action plans for women as  well as raise awareness of women’s (de jure and de facto) equality with men in all areas and sectors of the government.
In social and cultural behavior the government must undertake educational campaigns regarding equality, boosting understanding between men and women, averting bullying towards young girls and against the practice of early and forced marriages. The National Council of Women of New Zealand in 2015 stated that gender equality will benefit New Zealanders economically and socially. Regarding the exploitation of women in New Zealand, the government must report daily sexual violence, give safeguards to women victims of violence including Maori and migrant women. Besides that, the government must also ensure the protection of the human rights of the trafficked women and girls by providing data on trafficking and exploitation of women in prostitution and raise awareness of the hazard of trafficking.
The National Council Women of New Zealand stated that women’s experience  in partner violence is the highest reported in Aotearoa in 2015 (35.44 %). In political and public life in New Zealand  women’s participation in professional works is significantly under that of men, For example, women only hold 34% of the seats in parliament, only 25-31% of judges, senior academics staff in universities and school. In education graduate women also earn less than men during their career and it is difficult for them to repay loans. In employment, substantially more women are paid below the minimum wage ($15.25per hour in 2016).
In health, the application of a sexuality curriculum is still not good including limited information about contraception and STI prevention. In economic and social life there is no disaggregated data relating to how women with disabilities are faring in comparison to men with disabilities. – Forced sterilization is still legal in New Zealand, the vulnerability of New Zealand women is worst among Maori and pacific women. For women in rural areas, it is also difficult to achieve the same level of education and employment. The government must have an action plan for women to ensure women are not discriminated against and that they have equal opportunities as well as providing plans and support in areas  of domestic violence, educational program, and health.