Analisis permintaan tokoh – tokoh Papua ke President
Ada sebuah kasus yang sangat menarik di Ethopia dimana angka kematian anak
kecil yang baru lahir dan berumur 1 sampai 5 tahun meninggal paling tinggi, untuk mencegah angka
kematian anak – anak, pemerintah Ethopia
merespon dengan memperkenalkan program perawatan ibu yang penuh hormat, di mana
perempuan memilih posisi melahirkan mereka sendiri, dapat membawa teman
melahirkan dan dapat melakukan upacara menyambut bayi dengan minum’’ dan makan’’ sambil menunggu bayi yang
akan lahir, tetapi kenyataannya anak” kecil tetap meniggal. Terus kesalahannya
disini dimana.?
Pertama Pemerintah Ethopia tidak mengukur masalah sesuai dengan faktor
sosial dan budaya – masyarakat lokal tidak pede melahirkan di rumah sakit , kedua ada pengumpulan data awal yang cacat tentang kematian anak sehingga
tujuan dari pembangunan fasilitas yang lengkap untuk kesehatan di Ethopia
gagal. (Childs and Fawssett, 2015) Contoh ini menunjukkan bahwa faktor sosial
dan budaya itu sangat penting dalam menyelesaikan masalah.
Dalam menghadapi isu rasisme untuk orang- orang Papua, parah tokoh – tokoh
Papua harus mengukur masalah isu rasisme terhadap orang orang Papua dan masalah
- masalah di Papua berdasarkan situasi dan budaya di Papua, kemudian meminta
undang – undang keberlanjutan yang lebih tajam dan jelas ke Pemerintah
Indonesia untuk melindungi hak – hak asasi orang – orang Papua untuk sekarang
dan masa yang akan datang, bukan dengan meminta infrastruktur dan lain – lain yang
tidak ada kaitannya dengan isus rasisme dan diskriminasi :
Anda meminta:
1. Pemekaran provinsi
5 wilayah di provinsi Papua dan Papua Barat – setiap tahun tetap ada isus
rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
2. Pembentukan Badan
Nasional Urusan Tanah Papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan
diskriminasi terhadap orang Papua.
3. Penempatan pejabat
eselon 1 dan eselon 2 di Kementerian dan Lembaga - setiap tahun tetap ada isu
rasisme terhadap orang Papua.
4. Pembangunan asrama
nusantara untuk mahasiswa Papua di seluruh kota dan menjamin keamanan mahasiswa
Papua - setiap tahun tetap ada isu rasisme terhadap orang Papua.
5. Usulan revisi UU
otonomi khusus dalam prolegnas dalam 2020 - setiap tahun tetap ada isu rasisme
terhadap orang Papua.
6. Menerbitkan Inpres
untuk pengangkatan ASN Honorer di Tanah Papua - setiap tahun tetap ada isus
rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
7. Percepatan palapa
ring timur papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan diskriminasi terhadap
orang Papua.
8. Membentuk lembaga
adat perempuan dan anak Papua - setiap tahun tetap ada isus rasisme dan
diskriminasi terhadap orang Papua.
9. Membangun Istana
Presiden RI di Ibu Kota Provinsi Papua, Jayapura - setiap tahun tetap ada isus
rasisme dan diskriminasi terhadap orang Papua.
Untuk
menyelesaikan masalah rasisme dan diskriminasi
terhadap orang Papua itu tidak hanya dengan menangkap dua orang di Surabaya
sebagai tersangka, untuk menyelesaikan masalah rasisme dan diskriminasi
terhadap orang Papua itu satu Indonesia semua bertanggung – jawab, dari Sabang
– Merauke semua wajib bertanggung jawab. Harusnya tokoh – tokoh Papua meminta
kebijakan HAM Papua yang sustainable ke pemerintah, kebijkakan yang lebih tegas
terhadap warga negara yang rasisme dan diskriminasi kepada orang Papua,
kebijakan tentang pelanggaran hak asasi manusia di Papua, kebijakan tentang tanah – tanah adat di Papua, kebijakan tentang sumber
daya manusia Papua, dan pemerintah Indonesia juga harus mendengar sendiri suara
dari masyarakat Papua berdasarkan budaya dan situasi di Papua. Tokoh – tokoh
Papua minta 9 point yang tidak ada kaitannya dengan masalah rasisme dan itu
lebih kepada egoisme dan pribadi, masyarakat Papua demo dijalan untuk harga diri.
#Mari berbagi .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar